Translate

Jumat, 26 Oktober 2012

Masjid Aschabul Kahfie Perut Bumi Yang Unik

                 
Melintasi  Jalan Gedongombo di Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban – Jawa Timur, atau sekitar 4 km arah timur dari Pusat Kota terdapat sebuah bangunan yang cukup Aneh, unik dan menarik. 

 Bangunan itu berada diantara deretan Warung di kanan dan kirinya atau  deretan mobil dan bis yang parkir di depannya.

Selain karena bentuknya yang tampak aneh, Warna bangunannya juga sangat Beragam dan Atraktif

Bangunan apakah itu ?

 Di atas bangunan itu terdapat papan nama yang tertuliskan huruf  besar : Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi . Selain itu juga terdapat tulisan Arab dan tulisan dalam huruf  Jawa .
Membaca namanya saja sudah cukup unik dan menarik perhatian. Masjid ini memang berada di perut bumi atau di dalam Gua alami. Sedangkan bangunan aneh dan mencolok dengan berbagaiRelief nya yang tampak  dari atas permukaan  itu adalah kubah masjid yang berada di atas permukaan tanah.

 Kubah masjid itu penuh dengan goresan ayat-ayat Al Qur’an dan beberapa diantaranya  berbentuk  seperti  tulisan  dalam rajah. Rajah adalah  semacam jimat atau Pegangan  dengan tulisan Arab dan Gambar-gambar  tertentu yang biasanya dituliskan dalam lembaran Kertas, kain, Kayu atau media lainnya.

Adalah KH. Shubhan, seorang Ulama dari Tuban yang mempunyai ide dan gagasan untuk memanfaatkan goa alami yang terdapat di kawasan yang cukup gersang, tandus dan berbatu itu. KH. Shubhan itu juga yang menjadi arsitek dan pengarah pembangunan masjid itu.
Upaya pembangunan masjid itu sudah berlangsung sejak belasan tahun yang lalu dan masih berlanjut hingga sampai saat ini.

Selain terdapat masjid, di Gua itu juga terdapat  Ruangan dan bangunan lainnya.
Karena berada di dalam gua, untuk memasukinya tentu harus dengan menuruni dan melewati lorong-lorong gua yang ada. Sebagian besar dari Gua itu sudah dirombak penampilannya dengan sentuhan  dan citra Rasa seni.
 Melewati  ruangan dan bagian masjid membuat kita  seolah lupa bahwa sedang berada di dalam gua. Namun seolah berada di dalam Taman di Dunia lain. Kemegahan bangunan di dalam gua ini (prizt)

Pesona Kota Seribu Goa Terancam Pudar


12 - May - 2012 | by: admin
goa srunggo













legendakotatua, Tuban – Julukan “Kota Seribu Goa” yang dideklarasikan Bupati Tuban Letkol CZI. H. Hindarto di penghujung tahun 1998 tampaknya memang layak disandang Tuban. Kota kecil di pesisir utara Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah ini memang dipenuhi goa. 
Jumlahnya mungkin tidak mencapai seribu. Catatan Lembaga Konservasi dan Perlindungan Sumber Daya Alam (LKPSDA) CAGAR, jumlah goa yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Tuban hanya sekitar 700-an. Itu-pun yang telah terindentifikasi baru sekitar 521 goa. Tetapi jumlah itu rasanya tidak perlu terlalu dipermasalahkan dengan julukan Kota Seribu Goa, untuk kota yang konon pernah menjadi tulang punggung kejayaan Majapahit ini.
Menyelusuri Tuban memang tidak lengkap rasanya jika tidak singgah di goa-goa yang bertebaran di seluruh wilayah kabupaten ini. Anda tak perlu risau dengan jarak dan medan yang sulit untuk dapat menikmati goa-goa yang dimiliki Tuban. Di dalam kota saja, terdapat sedikitnya 11 goa. Sayangnya, dari 11 goa itu hanya dua goa yang bisa anda nikmati, yakni Goa Akbar yang berada di belakang Pasar Baru Tuban, Jl Gajah Mada, dan Goa Maulana Maghribi yang juga dikenal dengan Perut Bumi, di Jl. Gedong Ombo. Selebihnya sudah tidak dapat dimasuki lantaran terdesak perkembangan kota. Bahkan beberapa dijadikan tempat pembuangan sampah domestik, semisal Goa Jaran yang ada di Kelurahan Sendangharjo.
Dua goa yang saat ini telah ditetapkan sebagai tempat tujuan wisata, dulu juga tak terurus. Goa Akbar yang berada persis di Belakang Pasar Baru Tuban (Pasar induk) bahkan menjadi septic tank bagi warga yang bermukim di sekitarnya. Goa Maulana Maghribi juga bernasib serupa. “Baru pada sekitaran 1995, saat Bupati Hindarto menjabat, Goa Akbar direhabilitasi, kemudian resmi dibuka sebagai tempat tujuan wisata pada 1997,” jelas Sunaryo, Kepala Bagian Pariwisata, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban.
Luas pasti Goa Akbar, diperkirakan lebih dari 5 hektar. Lorongnya pun konon hingga 35 Km dan tembus ke Goa Ngerong di Kecamatan Rengel. Belum pernah ada seorang pun yang membuktikannya. Namun terlepas dari mitos mengenai luasan itu, bila dibanding dengan goa-goa lainnya, Goa Akbar memang memiliki ruangan paling besar. Mungkin sebab inilah goa ini dinamakan Goa Akbar. “Tetapi nama sebenarnya Goa Ngabar. Menurut catatan sejarah, goa ini dulu tempat “ngabar” atau menguji prajurit-prajurit Tuban yang hendak naik pangkat,” kata Sunaryo.
Staglatit dan Stalagmit Goa Akbar atau Ngabar ini memang tidak begitu bagus. Menurut Edy Toyibi, Direktur LKPSDA Cagar, morfologi Goa Akbar mengalami kerusakan lumayan parah akibat menjadi buangan limbah rumah tangga dan Pasar Baru. Namun pengunjung tak perlu kecewa, sebab para ahli telah memoles ruangan goa ini ke bentuk semula, termasuk sungai bawah tanah yang konon dulu juga mengalir di goa ini menuju ke laut. “Airnya kering karena salurannya tertimbun kotoran rumah tangga. Tapi sudah diperbaiki dan sekarang sudah mengalir seperti dulu lagi,” kata Edy Thoyibi.
Saat ini, yang dibuka untuk umum hanya seluas 1,2 hektar. Sejumlah ruangan yang ditengarai “berbahaya” bagi pengunjung, terpaksa ditutup, semisal Lorong Samudro. Lorong sepanjang 2,5 kilo meter menuju arah utara ini, konon memiliki pintu di dasar laut, tepat di sebelah timur dermaga Pelabuhan Boom. Kendati begitu, menyusuri lorong yang dijadikan jalur pengunjung sepanjang 2 km sudah cukup menguras energi. Tetapi bila anda tidak cukup kuat untuk berkeliling ke seluruh ruangan goa, anda bisa ambil jalan pintas menuju pintu keluar.
Sementara Goa Maulana Maghribi sebenarnya tidak ditetapkan sebagai tempat kunjungan wisata oleh Pemerintah Setempat. Goa ini dibuka oleh Kyai Subekan, dan dijadikan sebagai Pondok Pesantren. Namun sentuhan seni yang dipoleskan pada goa bekas buangan sampah domestik ini membuat tempat ini menjadi sangat artistik, eksotik dan menarik minat wisatawan, terutama yang gemar melakukan wisata spiritual. Dinding goa penuh dengan kaligrafi Arab, yang diambil dari Kitab Mujarobat, membuat goa yang diyakini pernah menjadi tempat khalwat Syaikh Maulana Maghribi ini memiliki aura magis luar biasa kuat.
Untuk sampai ke goa atau pesantren bawah tanah ini tidak terlalu sulit. Lokasinya sangat mudah dijangkau dari segala arah dan segala jenis kendaraan. Tidak ada tiket masuk. Anda hanya diwajibkan mengisi kota amal seikhlasnya, dan berhak membawa pulang “air mujarab” bila memberi mahar sebesar Rp 10-20 ribu. Sebagian orang yakin, goa ini memiliki tuah yang bisa membantu menyelesaikan segala masalah, semisal sulit jodoh, tidak punya keturunan bahkan naik jabatan. Tapi terlepas dari kepercayaan itu, goa ini memiliki daya tarik tersendiri karena ke-eksotisannya.
Goa lain yang telah dibuka sebagai tempat tujuan wisata adalah Goa Ngerong di Kecamatan Rengel dan Goa Putri Asih di Desa Goa Terus, Kecamatan Montong. Goa Ngerong masuk klasifikasi goa freatik, yakni goa yang seluruh ruangannya dipenuhi air. Menurut Edy Thoyibi, goa ini merupakan sungai bawah tanah sepanjang 60 Km. Sumbernya berada di Desa Grabagan, Kecamatan Grabagan, 10 Km dari lokasi Goa Ngerong. Jarang pengunjung yang berminat menelusuri lorong dan menikmati keindahan staglatit dan staglagmitnya. Air yang menggenang dengan kedalaman 1,2 meter tentu menjadi alasan logis. Terlebih lagi 20 meter dari mulut goa, lorong sudah menyempit, dan hanya bisa dilalui dengan berenang. Tetapi anda tak perlu kecewa. Ribuan kelelawar yang bergelantungan di dinding goa menjadi gantinya. Anda juga bisa bermain-main dengan ribuan ikan yang hidup dengan bebas di sungai goa itu.
Jika hendak ke Goa Putri Asih, anda harus membawa kendaraan sendiri. Tidak ada kendaraan umum yang sampai ke sana. Mobil Angkutan Umum (MPU) hanya sampai ke Kota Kecamatan Montong. Selebihnya, anda harus naik ojek dengan ongkos Rp 15 ribu untuk sampai ke lokasi wisata yang masih dalam pengelolaan Perhutani Unit II Jatim tersebut. Tetapi segala jerih payah anda bakal terobati saat anda memasuki goa ini. Memang tidak seberapa luas, tetapi diaroma ruangannya sungguh sangat memikat. Goa ini pun relatif belum banyak tersentuh perubahan, kecuali di beberapa bagian kecil semisal tangga beton untuk mempermudah pengunjung masuk dan menyusuri ruangan goa. Mungkin lantaran tempatnya yang terpencil di tengah hutan jati kawasan KPH Parengan itu, Goa Putri Asih ini tidak banyak dikenal oleh wisatawan. Sehari-hari goa ini sepi. Pada saat libur Hari Besar-pun pengunjungnya tidak pernah membludak seperti Goa Akbar atau Goa Ngerong.
Tambang Ilegal Ancam Kelestarian Goa
Sebenarnya bukan hanya sejumlah goa itu saja yang layak dijadikan tempat tujuan wisata. Goa-goa lain justru memiliki keindahan yang lebih memikat dibanding sejumlah goa yang telah dibuka untuk umum itu. Goa Lawa dan Goa Manuk, misalnya. Goa yang berada di kawasan Cagar Alam Goa Nglirip ini malah memiliki jenis dan bentuk stalagtit dan stalagmit yang konon hanya satu-satunya di Indonesia. Di goa ini hidup pula kelelawar jenis hipposideros larvanus, yakni kelelawar pemangsa serangga yang dikabarkan populasinya di Indonesia juga semakin mendekati kepunahan. Sementara di Goa Manuk yang berada 50 meter dari goa Lawa, dihuni ratusan walet. Khusus untuk Goa Manuk, sebuah bangunan mirip benteng mengelilingi pintu masuknya. Menurut Suto Sabin, petugas Cagar Alam Goa Nglirip, bangunan itu dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk melindungi walet-walet yang hidup di dalamnya dari jarahan pencari walet.
Namun sekarang Goa Manuk tidak haram bagi para pemburu walet. Pintu besi yang selama ratusan tahun tergembok telah berhasil dibuka. Maka Goa Manuk pun menjadi arena penjarahan. Bukan saja para pencari walet yang menjarah, tetapi juga para penambang batu phosphat. Akibatnya, morfologi goa itu rusak berat. Beberapa pilarnya patah, bahkan pintu masuk goa nyaris tertutup timbunan batu patahan atap goa. Hal serupa juga terjadi pada Goa Lawa.
Tak hanya goa tersebut yang rusak akibat ulah para penambang phosphat. Goa Bongok di Desa Jetak, Kecamatan Montong, juga terancam rusak akibat aktivitas penambang phosphat. Catatan LKPSDA Cagar, 90 % goa yang ada di Tuban telah rusak akibat ulah penambang-penambang phosphat itu. Mereka semua tak berijin alias ilegal.
Dinas Pertambangan dan Sumber Daya Mineral (DPSDM) Kabupaten Tuban menengarai ada 70 lebih usaha pertambangan phosphat di goa-goa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tuban. Dari jumlah itu, menurut catatan DPSDM Tuban, hanya dua yang memiliki ijin resmi melakukan eksploitasi phosphat.
Upaya untuk menghentikan eksploitasi phosphat ilegal yang merusak morfologi dan habitat goa itu telah berkali-kali dilakukan, baik oleh Pemkab maupun oleh Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA). Memang untuk beberapa saat aktivitas tambang berhenti. Tetapi tak lama kemudian terlihat lagi eksploitasi itu dilakukan. Bahkan tanpa sungkan-sungkan setelah kepemimpinan Bupati Haeny Relawati Rini Widiastuti, M.Si berganti ke tangan KH. Fathul Huda sekarang ini.
Sayang memang. Padahal semestinya goa-goa yang bertebaran di seluruh wilayah Kabupaten Tuban ini bisa menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan. Saya rasa, hanya Tuban yang memiliki demikian banyak goa dengan berbagai klasifikasi dan ukuran. Uniknya lagi, masing-masing goa itu memiliki perbedaan jenis batu dan habitat yang hidup di dalamnya.(prizt)

Jumat, 12 Oktober 2012

batik tradisional TENUN GEDOG Yang Khas Dan Artistik



Tenun Gedog, begitulah nama kerajinan tangan berbentuk lembaran kain Tradisional ini. NamaGedog itu berasal dari bunyi secara berulangkali  yang terdengar ketika proses menenun itu sedang dilakukan yaitu Dog ...Dog..Dog...

 

Uniknya, kerajinan ini hanya dikerjakan oleh warga Desa Margorejo, Gaji  dan Karangrejo,Kecamatan Kerek, yang letaknya sekitar 27 km arah barat Tuban.
Saat ini tenun Gedog sudah jarang bisa ditemui karena hanya tinggal beberapa generasi usia lanjut yang menekuninya.

Generasi muda di desa itu banyak yang memilih pekerjaan membatik daripada menenun. Alasannya, proses persiapan dan pengerjaan tenun gedog selain rumit juga butuh waktu lama. Untuk persiapan saja dibutuhkan waktu empat hari, sedangkan pengerjaannya biasanya bisa sampai satu bulan penuh.Selain itu, kebiasaan warga yang lebih mengutamakan mengerjakan ladang atau sawahnya, membuat kerajian tenun Gedog hanya sebagai pekerjaan sambilan.
   
 Akibatnya , bila tiba musim tanam atau panen, kerajinan gedog ditinggalkan. Pada saat itu tak bisa menemukan warga yang menenun Gedog. Mereka lebih mengutamakan ke ladang, kebun atau sawahnya daripada menenun Gedog. Tidak peduli meski saat itu sedang ada banyak pesanan.


Para perajin gedog tak hanya menggunakan pewarna sintetis, tapi juga yang Alami. Repotnya, banyak pewarna alami yang belum mereka kenal. Selama ini mereka hanya mengenal wit tarumatau wit tom alias pohon nila untuk mendapatkan Warna biru tua. Sulitnya, Tanaman ini tidak mudah didapat, karena jarang ditanam oleh penduduk. Padahal menanamnya mudah dan tidak butuh perawatan khusus.
Pewarna alami yang digunakan itu antara lain  daun dan kulit jambu mete, kulit pohon jambu biji, akar mengkudu, kayu secang, dll. yang bisa menghasilkan warna coklat dan krem.



Bentuk kerajinan gedog sebenarnya beraneka rupa. Sebut saja mulai dari kain tenun gedog, kain tenun motif non-gedog, kain batik non-gedog, sampai kain seser. Kain tenun gedog itu kain hasil tenun berhiaskan motif gedog. Sedangkan kain batik gedog terbuat dari bahan kain non-tenun yang berhiaskan motif gedog.
Selama ini ada sekitar 22 motif asli gedog, di antaranya motif panji konang, panji serong, ganggeng, kembang randu, kembang waluh, cuken, melati selangsang, satriyan, kijing miring, likasan kothong, guntingan, dll. Umumnya, hiasan motif berupa penghalusan dari bentuk tanaman, satwa, dan bentuk-bentuk abstrak yang penuh dengan hiasan titik, garis lurus, dan garis lengkung. Ada juga hiasan berupa guratan-guratan yang pecah seperti permukaan marmer. Artistik sekali.

Sedangkan kain tenun motif non-gedog dihasilkan dari permainan warna barang tenunannya. Sekilas kain jenis ini tidak banyak berbeda dengan kain tenun dari daerah lain. Motifnya antara lain usik, dom sumelop, kembang batu, batu rante, intip iyan, semar mendem, sleret blungko, dsb.

 Sedangkan kain seser disebut demikian karena jenis kain ini dulu dipakai untuk menyeser, yakni menangkap ikan dan udang di sungai. Tidak aneh kalau jarak antarbenang tenunan kain seser itu longgar. Ia juga tanpa motif atau warna.