Translate

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tips merawat Batik

legendakoAda beberapa yang perlu menjadi perhatian dalam merawat batik, sehingga pakaian batik kita menjadi awet tahan lama dan warna tetap menarik, walaupun sudah dipakai beberapa tahun.

Berikut 7 Langkah dalam Merawat Batik :

1. Cuci kain batik anda menggunakan shampo rambut. Namun, sebelumnya cairkan dulu shampo tersebut hingga tak ada yang menggumpal, baru setelah itu masukkan kain batik anda dalam larutan shampo tadi. Atau anda juga dapat menggunakan detergent khusus untuk kain batik, atau juga bisa menggunakan tanaman tradisional Jawa yang biasa di sebut "klerek"


2. Saat mencuci jangan menyikat atau mengucek bila kain tidak terlalu kotor, jangan pula menggunakan mesin cuci

3. Jangan menjemur kain batik di bawah sinar matahari secara langsung, jemur di tempat yang teduh ( di angin-anginkan )

4. Jangan memeras kain batik saat anda akan menjemurnya, anda hanya perlu menarik salah satu ujungnya sehingga kain akan kembali ke bentuk semula

5. Akan sangat lebih baik jika anda menghindari menyeterika kain batik anda. Apabila kain terlalu kusut, taruh kain lain yang di basahi dengan air ke atas kain batik anda, lalu seterika dengan suhu yang paling rendah

6. Apabila anda ingin memberikan pengharum, deodorant atau semacamnya, jangan semprotkan langsung, tapi tutupi dengan kertas koran lalu semprotkan pewangi di atas kertas koran tersebut (prizt)

7. Disarankan untuk meletakkan kain batik anda di dalam tas plastik. Anda juga bisa menambahkan di dalamnya beberapa butir lada yang di bungkus dengan kertas tisu untuk menghindari ngengat. Jangan menggunakan kapur barus, karena akan merusak kain. 

Asal-Usul Batik Tulis Gedog Tuban


Keberadaan profesi pengrajin batik tulis tradisional sekarang ini hampir-hampir merupakan pekerjaan yang telah banyak ditinggalkan oleh banyak orang, karena ketrampilan yang dibutuhkan dianggap tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai pengrajin batik tulis, sehingga hanya dari tangan-tangan terampil para pengrajinlah kita dapat menikmati suatu karya budaya yang bernilai seni tinggi.
Batik tulis tradisional Tuban adalah suatu karya budaya yang keberadaannya sampai sekarang masih diterima oleh masyarakat.sebab disamping nilai estetik yang ditampilkannya cukup tinggi, juga kandungan nilai budaya dalam karya ini tampak jelas, sehingga batik tulis tradisional Tuban ini merupakan suatu produk yang memiliki kekhasan tersendiri.
Mengingat semakin menipisnya kemauan anggota masyarakat menekuni profesi ini karena dianggap tidak komersil, maka potensi dan keberadaan produk tradisonal ini perlu dilestarikan bahkan perlu dikembangkan.
Dengan didirikannya Unit Usaha Mikro "Anggur Hijau" Goa Akbar, semoga para pengrajin bisa melihat bahwa, profesi ini tidaklah seperti yang dibayangkannya, sebab Tubanstore ingin memperkenalkan batik tulis baik lokal maupun internasional, sehingga batik tulis tradisonal tuban ini semakin berkembang dan kelestariannya tetap terjaga dan tidak hanya itu, tetapi juga dapat memperkaya serta mentransformasikan karya budaya ini ke alam modern.
Sejarah Batik Tulis Tradisonal Tuban
Tuban sebagai salah satu wilayah di bagian Timur dari pulau jawa, memiliki satu corak kebudayaan yang unik, mengapa? Karena dalam sejarah wilayah ini telah masuk 3 tata nilai kebudayaan yang saling mempengaruhi, dan sampai sekarang kebudayaan ini masih tetap eksis dan sama-sama berkembang, tanpa membuat salah satu kebudayaan ini tersingkir. Ketiga kebudayaan tersebut adalah
1. Jawa, yang meresap saat wilayah ini dalam kekuasaan jaman Majapahit (abad XII-XIV)
2. Islam, karena diwilayah ini hidup seorang ulama yang ternama yaitu Sunan Bonang (1465-  1525 M)
3. Tiongkok(cina), karena di Tubanlah para sisa lascar tentara kubalai khan melarikan diri dari kekalahannya pada saat menyerang Jawa di awal abad XII, hingga kini masyarakat keturunan ini banyak bermukim di Tuban.
Proses interaksi ketiga kebudayaan ini berlangsung sekian lamanya hingga sekarang dan sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Tuban sampai kini.
Motif Batik Tulis Tradisional Tuban, apabila di cermati, terlihat betapa motif-motif tersebut sangat dipengaruhi nilai-nilai budaya jawa, islam, dan tiongkok. Gambar-gambar burung pada motif batik tulis Tuban jelas terlihat pengaruh dari budaya tiongkok, karena gambar burung yang dimotifkan pada batik tulis tersebut Nampak adalah burung”Hong”yang jelas tidak terdapat di wilayah Tuban.
Sedang pada motif bunga jelas terlihat adalah motif-motif tradisional yang sejak lama dibuat dihampir seluruh wilayah pulau Jawa. Sedangkan pengaruh islam pada motif batik tulis Tuban terlihat pada motif dengan nama yang religious seperti kijing miring.
Dahulu batik tulis ini hanya digunakan untuk upacara-upacara tradisional masyarakat Tuban seperti sedekah bumi, pernikahan, pemakaman.
Pada perkembangan jaman, sekarang ini penggunaan batik tulis Tuban tidak hanya untuk upacara-upacara adat, namun telah meluas pada penggunaannya seperti ; taplak meja, sarung bantal, dekorasi, hiasan dinding, model baju modist baik untuk pria dan wanita.
Dari hal-hal tersebut diatas jelaslah bahwa batik tulis tradisional Tuban yang memiliki ciri khas yang unik sangat perlu untuk dilestarikan keberadaannya apalagi potensi pengembangannya sangat prospektif.
Proses Pembuatan Batik Tulis Tradisional Tuban
Batik Gedog Tulis Tradisonal (kain katun):
1. Kain katun
2. Diputihkan, dicuci
3. Dijemur sampai kering
4. Dilengkreng/dipola
5. Isen-isen
6. Ditembok
7. Dicelup dengan warna dasar
8. Diangin-anginkan hingga kering
9. Isen-isen
10. Celup warna yang dikehendaki
11. Diangin-anginkan
12. Dilorot, untuk memisahkan malam
13. Diangin-anginkan hingga kering
Proses Batik Gedog Tulis Tradisional pada kain katun memerlukan waktu 3-4 hari kerja, dan apabila musim hujan, bisa memakan waktu lebih lama lagi.
Batik Gedog Tulis Tradisonal (kain tenun):
1. Benang Lawe, sebagai bahan baku
2. Benang direbus untuk menghilangkan lemak
3. Dijemur sampai kering
4. Dikanji dengan tepung jagung/tepung kanji
5. Disikat dengan sabut kelapa
6. Di dihani, untuk menentukan panjang dan lebar kain
7. Memasukkan benang dalam sisir ; dimasukkan dalam teropong, digulung dipalet/pemaletan
8. Ditenun
9. Kain Lawon
10. Diputihkan, dicuci
11. Dijemur sampai kering
12. Dilengkreng/dipola
13. Isen-isen
14. Ditembok
15. Dicelup, dengan warna dasar
16. Diangin-anginkan hingga kering
17. Isen-isen
18. Celup warna yang dikehendaki
19. Diangin-anginkan
20. Dilorot, untuk memisahkan malam
21. Diangin-anginkan hingga kering
Proses Batik Gedog Tulis Tradisional pada kain tenun memerlukan waktu 14-18 hari kerja, dan apabila musim hujan, bisa memakan waktu lebih lama lagi.
Jenis batik Gedog
Keistimewaan batik gedog, bukan hanya proses pembuatannya, tetapi juga motifnya seperti ganggeng, kembang randu, kembang waluh, cuken, melati selangsang, satriyan, kijing miring, likasan kothong, guntingan, panjiori, kenongo uleren, panji krentil, panji serong, dan panji konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila justru diyakini bisa menyembuhkan penyakit.
Potensi daerah penghasil Batik Gedog
Pada awalnya batik tulis tradisional ini hanya dikenal didalam suatu wilayah kecamatan bernama kerek, khusunya didesa Margirejo, desa Gaji, desa Kedongrejo dan desa Karanglo. Karena memang dikecamatan kerek inilah pertama kali orang mulai memintal benang dan menenun kain. Dalam perkembangannya desa-desa lain yang kemudian juga ikut menghasilkan batik tulis tradisional ini antara lain desa karang, desa prunggahan kulon kecamatan semanding dan desa Sumurgung kecamatan Tuban.
Kegiatan kerajinan batik tulis tradisional Tuban ini dikerjakan oleh suatu kelompok-kelompok kerja, biasa disebut unit usaha, yang beranggotakan beberapa orang pengrajin batik tulis. (prizt)

Jenis Batik Tuban


Saat ini,  masyarakat menganggap bahwa batik Tuban identik dengan Batik Gedog , yang notabene adalah Batik Tulis yang berkembang di daerah Kerek dan menjadi ciri khas Tuban., namun  sebenarnya, Tuban sendiri mempunyai beberapa daerah penghasil batik , dimana di setiap daerah terdapat batik dengan ciri khas masing – masing ….
1.    Batik Gedog
Kata Gedog  yang menjadi trade mark sebenarnya berasal dari bunyi dog dog dog dog dari bunyi kain tenun untuk membuat kain yang digunakan kai, pembatikan di Tuban vertikal dan merupakan satu kesatuan (integrated). Maksudnya, bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik.
Batik Gedog  pada awalnya merupakan kegiatan ibu desa yang menunggu suaminya pulang dari bercocok, sembari mengisi waktu ibu –ibu didaerah Kecamatan Kerek melakukan kegiatan membatik.
Berkembangnya Tuban sebagai pusat perdagangan Nusantara di Zaman Majapahit menjadikan Batik Gedog mengalami metamorfosis dalam hal Motif, karena ada sentuhan Budaya lain khususnya Cina. Motif batik Gedog  natural karena motif di pengaruhi alam sekitar, maka motif yang muncul seperti: Kijing Miring, Kembang Waluh, Uler keket, Rengganis, Blaraan, Manggaran, Uker, Liren, Panjiori, Ririnan, Kelopo Segantet,Remekan, Manuk Jalak, Irengan, Supit, Dudo Brenggola, kenongo uleren, ganggeng Motif  panji krentil, panji serong dan panji konang. panji krentil, panji serong, dan panji konang,  dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila justru diyakini bisa menyembuhkan penyakit.
Berkembangnya Tuban sebagai  kota perdagangan yang kosmopolit waktu itu, Batik Gedog juga menjadi komoditas ekonomi yang mengiurkan, maka motif berkembang menjadi beragam,unsur Cina pun masuk dalam motif seperti burung Hong  serta warna batik Gedog  tidak hanya gelap semata tapi juga berkembang warna warna cerah, seperti merah Khas Cina.
Layaknya Batik pesisiran lainnya batik Gedog dalam soal warna dan motif tidak terpengaruh dengan pakem layaknya batik Jawa Tengahan yang wawarna sogan, indigo, hitam dan putih, dan motif di pengaruhi oleh budaya hindhu-Budha, yang bersifat simbolis,ragam hias batik Tuban Ragam hias batik Jawa Timur bersifat naturalis dan juga di pengaruhi budaya asing.
2.    Batik Karang 
Batik Karang merupakan salah satu jenis varietas batik di Tuban, pusat kerajinan Batik Karang ini, sesuai namanya ada di Desa Karang , Kecamatan Semanding . Ciri khas batik warna nya yang cerah atau ngejreng. Untuk Motif dalam batik karang juga mengunakan motif natural layaknya batik Gedog Tuban, tapi dalam bati karang muncul unsur motif ikan yang tidak terdapat di Batik Gedog Tuban, ada nya unsur ikan tidak lepas posisi per
Sebaran dan perkembangan batik Karang yaitu dekat dengan pusat kota dan pesisir pantai, Batik karang juga di kategorikan batik pesisir karena mempunyai ciri khas war warni yang cerah, dan tidak tunduk pada pakem model Jawa Tengahan. Batik Karang memang secara historis belum banyak begitu tereksplore  di sebabkan mininmya referensi, serta publikasi yang kurang.
3.    Batik Palangan 
Batik Palangan berkembang di Kecamatan Palang sampai paciran Lamongan, batik tersebut tidak begitu terkenal di Kabupaten Tuban, disebabkan jumlah Pembatik yang sediki sehingga produksinya tidak sebanyak batik Gedog atau Batik karang, Pembuatan batik palangan perbiji  membutuhkan waktu sekitar 2 bulan, keunggulan batik ini pada batikan yang sangat halus dan teliti, tak heran batik jenis ini menjadi buruan para kolektor dan harganya mencapai jutaan rupiah, Batik halus, teliti serta produksi yang terbatas menyebabkan batik ini merupakan batik antik yang jarang di jumpai di pasaran, mencaripun harus berburu di pelosok desa Palang bagai menncari jarum di tumpukan jerami.sejarah batik ini tidak begitu di ketahui karena tidak referensi yang mendukungnya.
 Batik Palangan ini sudah dikembangkan batik tulis katun dengan pewarnaan alami lho … nahh, bangga bukan ? selain bagus dipakai juga ramah lingkungan. Dan metode ini juga sedang dikembangkan di sentra Batik di Kerek … hmmhh makin bangga ya dengan Batik Tuban 
Nah … menarik banget kan membaca dan menambah pengetahuan tentang Batik Tuban ? sudah saat nya anak muda Indonesia, khususnya Tuban lebih tahu tentang khasanah budaya negeri kita sendiri dan juga melestarikan nya , karena kalau bukan kita … siapa lagi ?  .. jangan sampai saat Batik Tuban nanti di akui sebagai karya seni negeri lain, kita baru teriak – teriak kebakaran jenggot … bakalan agak sedikit terlambat kalau begitu … 

Sekilas Tentang Batik Tulis Tuban

  


(legendakotatua) Batik adalah ciri khas bangsa Indonesia, itulah yang diangkat oleh Bung Karno ke dunia pada tahun 1950-an. Sebenarnya batik sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tidak ada data yang pasti tentang munculnya batik untuk pertama kalinya. Ada yang mengatakan bahwa karya seni kuno ini berasal dari Sumeria yang kemudian berkembang di Jawa Tengah setalah dibawa oleh pedagang India. Namun tetap bahwa batik adalahsalah satu budaya Indonesia yang berharga dan patut dilestarikan.
Batik di Indonesia dibagi menjadi dua yaitu batik pedalaman dan batik pesisiran. Batik pedalaman adalah batik yang berkembang di daerah pedalaman khususnya Yogyakarta dan Surakarta (Solo), batik pedalaman ini lebih dikenal dengan batik keraton atau batik klasik. Sedangkan batik pesisiran adalah batik yang berkembang di daerah pesisir pulau ( salah jenis batik pesisir yang mempunyai ciri khas adalah batik Tuban atau yang lebih di kenal dengan BATIK GEDOG ), seperti Cirebon dan Pekalongan.
Sejarah Batik Tulis Tradisonal Tuban
Tuban sebagai salah satu wilayah di bagian Timur dari pulau jawa, memiliki satu corak kebudayaan yang unik, mengapa? Karena dalam sejarah wilayah ini telah masuk 3 tata nilai kebudayaan yang saling mempengaruhi, dan sampai sekarang kebudayaan ini masih tetap eksis dan sama-sama berkembang, tanpa membuat salah satu kebudayaan ini tersingkir. Ketiga kebudayaan tersebut adalah :
1. Jawa, yang meresap saat wilayah ini dalam kekuasaan jaman Majapahit (abad XII-XIV)
2. Islam, karena diwilayah ini hidup seorang ulama yang ternama yaitu Sunan Bonang (1465-  1525 M)
3. Tiongkok(cina), karena di Tubanlah para sisa lascar tentara kubalai khan melarikan diri dari kekalahannya pada saat menyerang Jawa di awal abad XII, hingga kini masyarakat keturunan ini banyak bermukim di Tuban.
Proses interaksi ketiga kebudayaan ini berlangsung sekian lamanya hingga sekarang dan sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Tuban sampai kini.
Motif Batik Tulis Tradisional Tuban, apabila di cermati, terlihat betapa motif-motif tersebut sangat dipengaruhi nilai-nilai budaya jawa, islam, dan tiongkok. Gambar-gambar burung pada motif batik tulis Tuban jelas terlihat pengaruh dari budaya tiongkok, karena gambar burung yang dimotifkan pada batik tulis tersebut Nampak adalah burung”Hong”yang jelas tidak terdapat di wilayah Tuban.
Sedang pada motif bunga jelas terlihat adalah motif-motif tradisional yang sejak lama dibuat dihampir seluruh wilayah pulau Jawa. Sedangkan pengaruh islam pada motif batik tulis Tuban terlihat pada motif dengan nama yang religious seperti kijing miring.
Dahulu batik tulis ini hanya digunakan untuk upacara-upacara tradisional masyarakat Tuban seperti sedekah bumi, pernikahan, pemakaman.
Pada perkembangan jaman, sekarang ini penggunaan batik tulis Tuban tidak hanya untuk upacara-upacara adat, namun telah meluas pada penggunaannya seperti ; taplak meja, sarung bantal, dekorasi, hiasan dinding, model baju modist baik untuk pria dan wanita.
Dari hal-hal tersebut diatas jelaslah bahwa batik tulis tradisional Tuban yang memiliki ciri khas yang unik sangat perlu untuk dilestarikan keberadaannya apalagi potensi pengembangannya sangat prospektif. (prizt)

Jumat, 26 Oktober 2012

Menelusuri Lorong Panjang Goa Akbar Tuban

Kota Seribu Goa adalah salah satu julukan bagi Kabupaten Tuban  Jawa Timur.


 Hal ini  mengingat begitu banyaknya goa yang terdapat di segala penjuru daerahnya.

Salah satunya adalah Goa Akbar yang menjadi Destinasi Wisata Utama di Tuban.
Goa Akbar berada sekitar 100 meter di belakang Pasar Baru Tuban yang berada di tepi JalanRaya Surabaya - Semarang.
Uniknya, karena berada di belakang Pasar Baru Tuban itu, tentunya Goa Akbar dengan Lorong-Lorong goa yang cukup panjang ini juga berada tepat di bawah Pasar Baru Tuban.

Memasuki Wisata Goa Akbar tiket masuknya Rp 5000 per orang. Bentuk Gerbang cukup menarik. Begitu pula dengan Pilar-pilar dengan Tanaman Peneduh nya.

Bangunan peneduh Goa Akbar berbentuk seperti pendapa yang cukup besar dengan beberapa kubah sebagi pelindung lubang Goa Akbar dari Air hujan.

Di dinding sebelah pilar-pilar itu terdapat beberapa relief yang diantaranya berkisah tentang Walisongo dan Sunan Bonang , Ronggolawe, Sri Huning Mustika Tuban, dan sebagainya.

Melangkahkan kaki Memasuki lorong demi lorong di dalam Gua Akbar pengunjung bisa menjumpai beragam Stalaktit dan stalakmit.
Ada juga Sungai yang berair cukup deras. Yang menarik, ada batu yang diberi nama Sela Sardula ( batu Anjing ) karena bentuknya seperti anjing.

Ada juga Pasepen Kori Sinandi yang artinya tempat untuk menyepi yang tersamar karena bentuknya yang tersamar dan berada di dalam lorong goa yang cukup kecil. 


Selain itu juga terdapat pancuran air yang airnya mengalir cukup deras yang digunakan oleh para pengunjung untuk membasuh muka atau menampungnya di dalam botol kemasan sebagai oleh-oleh dari Goa Akbar.

Lorong-lorong Goa Akbar cukup panjang dan lebar.


Pada Dinding goa tampak bergantungan koloni kelelawar yang tampak hilir mudik berterbangan di dalam Gua. Di ujung lorong sebelum keluar dari Gua Akbar terdapat mushola yang digunakan oleh pengunjung untuk beribadah.

Goa Akbar, satu dari pesona keindahan Goa di Bumi Ronggolawe.(prizt)

Ragam dan Motif Batik Tulis Tenun Gedog Tuban


Keindahan batik memang tak pernah bisa dipungkiri. Batik Gedog Tuban yang kaya motif, warna dan fungsi itu kini telah dikenal luas. Masyarakat Tuban, Jawa Timur, mengenal batik dengan sebutan batik gedog. Gedog berasal dari bunyi dog-dog yang berasal dari alat menenun batik. Perajin batik di Tuban, turun temurun membatik pada kain tenun. Proses pembuatan batik gedog  Tuban butuh waktu sekitar tiga bulan. Pasalnya, perajin harus melewati proses panjang memintal benang, menenun, membatik dan pewarnaan dengan bahan alami.
.
“Ada 200 perajin di desa Kedungrejo dan sekitarnya. 20 perajin yang bekerja di rumah masing-masing. Anak-anak perempuan yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) juga dilatih membatik dan mereka sudah bisa mendapatkan penghasilan dari membatik. Mereka bisa bersekolah dengan uang sendiri. Meski membatik, anak-anak harus tetap pulang saat waktunya belajar atau mengaji,” jelas Uswatun kepada eastjavatraveler.com saat kunjungan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya bersama Semen Gresik, 
Sanggarnya, merupakaan sanggar binaan PT Semen Gresik Tbk yang ada di Tuban. Batik tulis Tuban sendiri mempunyai 100 ragam motif batik, 40 diantaranya sudah dipatenkan pemerintah daerah setempat sebagai upaya pelestarian budaya. Mudah saja membedakan batik Tuban, karena batik yang diaplikasikan pada kain tenun hingga katun, kebanyakan adalah batik tulis. Hanya beberapa perajin saja yang masih mengaplikasikan batik cap di Tuban.
Ragam motif dan fungsinya
Batik tulis tenun Tuban terbagi dua model, kain berukuran dua meter (tapih) dan selendang. Soal fungsi, kain batik Tuban biasanya digunakan sebagai hantaran pernikahan dari pihak laki-laki kepada mempelai perempuan. Bagi masyarakat yang mampu, calon pengantin laki-laki biasanya membawa 100 lembar kain batik Tuban. “Paling sedikit pihak laki-laki membawa lima lembar kain batik sebagai hantaran pernikahan,”  Nilainya yang tinggi, membuat masyarakat Tuban biasanya menyimpan kain batik untuk diwariskan kepada anak-anaknya.
Mengenai motif,  batik Tuban dikenal dengan motif panji serong, panjiori atau panji krendil. Motif ini dulunya dipakai oleh priyayi. Namun kini, batik Tuban bisa dinikmati dan dikoleksi berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, tanpa mengenal status sosial.
Ragam motif kain batik Tuban bisa dimiliki siapa saja yang mampu. Pasalnya, kain batik tulis tenun Tuban memiliki harga mulai Rp 600.000. Meski begitu, berbagai motif batik Tuban juga bisa dinikmati masyarakat dengan harga lebih murah. Perbedaannya di bahan dasar kainnya. Motif panji-panjian ini juga bisa diaplikasikan pada bahan katun atau blacu. Alhasil, harganya pun menjadi lebih terjangkau, mulai Rp 100.000. “Selain motif panji, kain batik (tapih) menyerupai sarung di Tuban juga memiliki motif religi seperti kijing miring dan ilir-ilir,” pungkasnya.
Kain dan selendang batik tulis tenun Tuban biasanya berwarna kecoklatan. Warna gelap menjadi ciri khas batik gedog dari Tuban. Meski begitu, Anda juga bisa menemui batik Tuban berwarna cerah. Batik Tuban punya kharisma dan keindahan yang khas dan unik. Selembar kain batik tenun tulis Tuban mewakili kreativitas perajin yang tak pernah mati, selain juga kegiatan membatik yang mengandalkan bahan dasar dari alam.

Bumi Akan Gelap 23-25 Desember 2012

Sebuah kabar beredar, Bumi akan gelap pada tanggal 23 hingga 25 Desember 2012. Kabarnya, hal ini disebabkan oleh Alignment of Universe atau sejajarnya alam semesta yang terjadi pada tanggal 23 hingga 25 Desember tahun ini.

Meski kebenaran hal ini masih diperdebatkan, masyarakat diimbau agar tidak panik dan tetap waspada. Menurut NASA, hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan isu kiamat 2012 yang sempat merebak beberapa waktu lalu.

NASA juga menambahkan bahwa Bumi diperkirakan akan mengalami kegelapan total pada tanggal 23 hingga 25 Desember 2012 yang disebabkan oleh Alignment of Universe atau sejajarnya alam semesta.

Ilmuwan Amerika Serikat memperkirakan akan terjadi perubahan alam semesta di mana Matahari, Bumi dan plenet-planet lain akan sejajar atau berada dalam satu garis lurus untuk pertama kalinya.

Perubahan alam semesta yang diperkirakan adalah berubahnya posisi Bumi dan selama 3 hari dalam kegelapan, Bumi akan mengadapi sebuah dunia baru. Namun hal ini masih belum jelas kebenarannya.

Banyak yang mempertanyakan, jika memang terjadi Alignment of Universe atau sejajarnya alam semesta, kenapa Bumi mengalami kegelapan total? Lalu kenapa sampai 3 hari lamanya, bukankah masing-masing planet memiliki periode rotasi dan revolusi yang berbeda-beda? Pertanyaan seperti inilah yang muncul dari berbagai kalangan.

Seperti yang dilansir dari blog BemFM, kabar ini masih dipertanyakan kebenarannya, namun tak ada salahnya kita selalu waspada dan siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.

Planet sejajar sebenarnya sudah pernah terjadi pada 1998 (saat Indonesia rusuh) dan warga bumi baik-baik saja. Dan kedudukan planet sejajar ini dalam waktu dekat tidak akan terjadi lagi.

Menurut NASA: “Tidak akan ada kedudukan planet sejajar dalam beberapa dekade mendatang, bumi tidak akan memotong galaksi pada 2012, jika terjadi pun, efek ke bumi boleh diabaikan. Tiap Desember Bumi dan Matahari sejejar dengan pusat Galaksi Bima Sakti dan terjadi tipa tahun tanpa konsekuensi.(prizt)

Masjid Aschabul Kahfie Perut Bumi Yang Unik

                 
Melintasi  Jalan Gedongombo di Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban – Jawa Timur, atau sekitar 4 km arah timur dari Pusat Kota terdapat sebuah bangunan yang cukup Aneh, unik dan menarik. 

 Bangunan itu berada diantara deretan Warung di kanan dan kirinya atau  deretan mobil dan bis yang parkir di depannya.

Selain karena bentuknya yang tampak aneh, Warna bangunannya juga sangat Beragam dan Atraktif

Bangunan apakah itu ?

 Di atas bangunan itu terdapat papan nama yang tertuliskan huruf  besar : Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi . Selain itu juga terdapat tulisan Arab dan tulisan dalam huruf  Jawa .
Membaca namanya saja sudah cukup unik dan menarik perhatian. Masjid ini memang berada di perut bumi atau di dalam Gua alami. Sedangkan bangunan aneh dan mencolok dengan berbagaiRelief nya yang tampak  dari atas permukaan  itu adalah kubah masjid yang berada di atas permukaan tanah.

 Kubah masjid itu penuh dengan goresan ayat-ayat Al Qur’an dan beberapa diantaranya  berbentuk  seperti  tulisan  dalam rajah. Rajah adalah  semacam jimat atau Pegangan  dengan tulisan Arab dan Gambar-gambar  tertentu yang biasanya dituliskan dalam lembaran Kertas, kain, Kayu atau media lainnya.

Adalah KH. Shubhan, seorang Ulama dari Tuban yang mempunyai ide dan gagasan untuk memanfaatkan goa alami yang terdapat di kawasan yang cukup gersang, tandus dan berbatu itu. KH. Shubhan itu juga yang menjadi arsitek dan pengarah pembangunan masjid itu.
Upaya pembangunan masjid itu sudah berlangsung sejak belasan tahun yang lalu dan masih berlanjut hingga sampai saat ini.

Selain terdapat masjid, di Gua itu juga terdapat  Ruangan dan bangunan lainnya.
Karena berada di dalam gua, untuk memasukinya tentu harus dengan menuruni dan melewati lorong-lorong gua yang ada. Sebagian besar dari Gua itu sudah dirombak penampilannya dengan sentuhan  dan citra Rasa seni.
 Melewati  ruangan dan bagian masjid membuat kita  seolah lupa bahwa sedang berada di dalam gua. Namun seolah berada di dalam Taman di Dunia lain. Kemegahan bangunan di dalam gua ini (prizt)

Pesona Kota Seribu Goa Terancam Pudar


12 - May - 2012 | by: admin
goa srunggo













legendakotatua, Tuban – Julukan “Kota Seribu Goa” yang dideklarasikan Bupati Tuban Letkol CZI. H. Hindarto di penghujung tahun 1998 tampaknya memang layak disandang Tuban. Kota kecil di pesisir utara Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah ini memang dipenuhi goa. 
Jumlahnya mungkin tidak mencapai seribu. Catatan Lembaga Konservasi dan Perlindungan Sumber Daya Alam (LKPSDA) CAGAR, jumlah goa yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Tuban hanya sekitar 700-an. Itu-pun yang telah terindentifikasi baru sekitar 521 goa. Tetapi jumlah itu rasanya tidak perlu terlalu dipermasalahkan dengan julukan Kota Seribu Goa, untuk kota yang konon pernah menjadi tulang punggung kejayaan Majapahit ini.
Menyelusuri Tuban memang tidak lengkap rasanya jika tidak singgah di goa-goa yang bertebaran di seluruh wilayah kabupaten ini. Anda tak perlu risau dengan jarak dan medan yang sulit untuk dapat menikmati goa-goa yang dimiliki Tuban. Di dalam kota saja, terdapat sedikitnya 11 goa. Sayangnya, dari 11 goa itu hanya dua goa yang bisa anda nikmati, yakni Goa Akbar yang berada di belakang Pasar Baru Tuban, Jl Gajah Mada, dan Goa Maulana Maghribi yang juga dikenal dengan Perut Bumi, di Jl. Gedong Ombo. Selebihnya sudah tidak dapat dimasuki lantaran terdesak perkembangan kota. Bahkan beberapa dijadikan tempat pembuangan sampah domestik, semisal Goa Jaran yang ada di Kelurahan Sendangharjo.
Dua goa yang saat ini telah ditetapkan sebagai tempat tujuan wisata, dulu juga tak terurus. Goa Akbar yang berada persis di Belakang Pasar Baru Tuban (Pasar induk) bahkan menjadi septic tank bagi warga yang bermukim di sekitarnya. Goa Maulana Maghribi juga bernasib serupa. “Baru pada sekitaran 1995, saat Bupati Hindarto menjabat, Goa Akbar direhabilitasi, kemudian resmi dibuka sebagai tempat tujuan wisata pada 1997,” jelas Sunaryo, Kepala Bagian Pariwisata, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban.
Luas pasti Goa Akbar, diperkirakan lebih dari 5 hektar. Lorongnya pun konon hingga 35 Km dan tembus ke Goa Ngerong di Kecamatan Rengel. Belum pernah ada seorang pun yang membuktikannya. Namun terlepas dari mitos mengenai luasan itu, bila dibanding dengan goa-goa lainnya, Goa Akbar memang memiliki ruangan paling besar. Mungkin sebab inilah goa ini dinamakan Goa Akbar. “Tetapi nama sebenarnya Goa Ngabar. Menurut catatan sejarah, goa ini dulu tempat “ngabar” atau menguji prajurit-prajurit Tuban yang hendak naik pangkat,” kata Sunaryo.
Staglatit dan Stalagmit Goa Akbar atau Ngabar ini memang tidak begitu bagus. Menurut Edy Toyibi, Direktur LKPSDA Cagar, morfologi Goa Akbar mengalami kerusakan lumayan parah akibat menjadi buangan limbah rumah tangga dan Pasar Baru. Namun pengunjung tak perlu kecewa, sebab para ahli telah memoles ruangan goa ini ke bentuk semula, termasuk sungai bawah tanah yang konon dulu juga mengalir di goa ini menuju ke laut. “Airnya kering karena salurannya tertimbun kotoran rumah tangga. Tapi sudah diperbaiki dan sekarang sudah mengalir seperti dulu lagi,” kata Edy Thoyibi.
Saat ini, yang dibuka untuk umum hanya seluas 1,2 hektar. Sejumlah ruangan yang ditengarai “berbahaya” bagi pengunjung, terpaksa ditutup, semisal Lorong Samudro. Lorong sepanjang 2,5 kilo meter menuju arah utara ini, konon memiliki pintu di dasar laut, tepat di sebelah timur dermaga Pelabuhan Boom. Kendati begitu, menyusuri lorong yang dijadikan jalur pengunjung sepanjang 2 km sudah cukup menguras energi. Tetapi bila anda tidak cukup kuat untuk berkeliling ke seluruh ruangan goa, anda bisa ambil jalan pintas menuju pintu keluar.
Sementara Goa Maulana Maghribi sebenarnya tidak ditetapkan sebagai tempat kunjungan wisata oleh Pemerintah Setempat. Goa ini dibuka oleh Kyai Subekan, dan dijadikan sebagai Pondok Pesantren. Namun sentuhan seni yang dipoleskan pada goa bekas buangan sampah domestik ini membuat tempat ini menjadi sangat artistik, eksotik dan menarik minat wisatawan, terutama yang gemar melakukan wisata spiritual. Dinding goa penuh dengan kaligrafi Arab, yang diambil dari Kitab Mujarobat, membuat goa yang diyakini pernah menjadi tempat khalwat Syaikh Maulana Maghribi ini memiliki aura magis luar biasa kuat.
Untuk sampai ke goa atau pesantren bawah tanah ini tidak terlalu sulit. Lokasinya sangat mudah dijangkau dari segala arah dan segala jenis kendaraan. Tidak ada tiket masuk. Anda hanya diwajibkan mengisi kota amal seikhlasnya, dan berhak membawa pulang “air mujarab” bila memberi mahar sebesar Rp 10-20 ribu. Sebagian orang yakin, goa ini memiliki tuah yang bisa membantu menyelesaikan segala masalah, semisal sulit jodoh, tidak punya keturunan bahkan naik jabatan. Tapi terlepas dari kepercayaan itu, goa ini memiliki daya tarik tersendiri karena ke-eksotisannya.
Goa lain yang telah dibuka sebagai tempat tujuan wisata adalah Goa Ngerong di Kecamatan Rengel dan Goa Putri Asih di Desa Goa Terus, Kecamatan Montong. Goa Ngerong masuk klasifikasi goa freatik, yakni goa yang seluruh ruangannya dipenuhi air. Menurut Edy Thoyibi, goa ini merupakan sungai bawah tanah sepanjang 60 Km. Sumbernya berada di Desa Grabagan, Kecamatan Grabagan, 10 Km dari lokasi Goa Ngerong. Jarang pengunjung yang berminat menelusuri lorong dan menikmati keindahan staglatit dan staglagmitnya. Air yang menggenang dengan kedalaman 1,2 meter tentu menjadi alasan logis. Terlebih lagi 20 meter dari mulut goa, lorong sudah menyempit, dan hanya bisa dilalui dengan berenang. Tetapi anda tak perlu kecewa. Ribuan kelelawar yang bergelantungan di dinding goa menjadi gantinya. Anda juga bisa bermain-main dengan ribuan ikan yang hidup dengan bebas di sungai goa itu.
Jika hendak ke Goa Putri Asih, anda harus membawa kendaraan sendiri. Tidak ada kendaraan umum yang sampai ke sana. Mobil Angkutan Umum (MPU) hanya sampai ke Kota Kecamatan Montong. Selebihnya, anda harus naik ojek dengan ongkos Rp 15 ribu untuk sampai ke lokasi wisata yang masih dalam pengelolaan Perhutani Unit II Jatim tersebut. Tetapi segala jerih payah anda bakal terobati saat anda memasuki goa ini. Memang tidak seberapa luas, tetapi diaroma ruangannya sungguh sangat memikat. Goa ini pun relatif belum banyak tersentuh perubahan, kecuali di beberapa bagian kecil semisal tangga beton untuk mempermudah pengunjung masuk dan menyusuri ruangan goa. Mungkin lantaran tempatnya yang terpencil di tengah hutan jati kawasan KPH Parengan itu, Goa Putri Asih ini tidak banyak dikenal oleh wisatawan. Sehari-hari goa ini sepi. Pada saat libur Hari Besar-pun pengunjungnya tidak pernah membludak seperti Goa Akbar atau Goa Ngerong.
Tambang Ilegal Ancam Kelestarian Goa
Sebenarnya bukan hanya sejumlah goa itu saja yang layak dijadikan tempat tujuan wisata. Goa-goa lain justru memiliki keindahan yang lebih memikat dibanding sejumlah goa yang telah dibuka untuk umum itu. Goa Lawa dan Goa Manuk, misalnya. Goa yang berada di kawasan Cagar Alam Goa Nglirip ini malah memiliki jenis dan bentuk stalagtit dan stalagmit yang konon hanya satu-satunya di Indonesia. Di goa ini hidup pula kelelawar jenis hipposideros larvanus, yakni kelelawar pemangsa serangga yang dikabarkan populasinya di Indonesia juga semakin mendekati kepunahan. Sementara di Goa Manuk yang berada 50 meter dari goa Lawa, dihuni ratusan walet. Khusus untuk Goa Manuk, sebuah bangunan mirip benteng mengelilingi pintu masuknya. Menurut Suto Sabin, petugas Cagar Alam Goa Nglirip, bangunan itu dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk melindungi walet-walet yang hidup di dalamnya dari jarahan pencari walet.
Namun sekarang Goa Manuk tidak haram bagi para pemburu walet. Pintu besi yang selama ratusan tahun tergembok telah berhasil dibuka. Maka Goa Manuk pun menjadi arena penjarahan. Bukan saja para pencari walet yang menjarah, tetapi juga para penambang batu phosphat. Akibatnya, morfologi goa itu rusak berat. Beberapa pilarnya patah, bahkan pintu masuk goa nyaris tertutup timbunan batu patahan atap goa. Hal serupa juga terjadi pada Goa Lawa.
Tak hanya goa tersebut yang rusak akibat ulah para penambang phosphat. Goa Bongok di Desa Jetak, Kecamatan Montong, juga terancam rusak akibat aktivitas penambang phosphat. Catatan LKPSDA Cagar, 90 % goa yang ada di Tuban telah rusak akibat ulah penambang-penambang phosphat itu. Mereka semua tak berijin alias ilegal.
Dinas Pertambangan dan Sumber Daya Mineral (DPSDM) Kabupaten Tuban menengarai ada 70 lebih usaha pertambangan phosphat di goa-goa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tuban. Dari jumlah itu, menurut catatan DPSDM Tuban, hanya dua yang memiliki ijin resmi melakukan eksploitasi phosphat.
Upaya untuk menghentikan eksploitasi phosphat ilegal yang merusak morfologi dan habitat goa itu telah berkali-kali dilakukan, baik oleh Pemkab maupun oleh Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA). Memang untuk beberapa saat aktivitas tambang berhenti. Tetapi tak lama kemudian terlihat lagi eksploitasi itu dilakukan. Bahkan tanpa sungkan-sungkan setelah kepemimpinan Bupati Haeny Relawati Rini Widiastuti, M.Si berganti ke tangan KH. Fathul Huda sekarang ini.
Sayang memang. Padahal semestinya goa-goa yang bertebaran di seluruh wilayah Kabupaten Tuban ini bisa menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan. Saya rasa, hanya Tuban yang memiliki demikian banyak goa dengan berbagai klasifikasi dan ukuran. Uniknya lagi, masing-masing goa itu memiliki perbedaan jenis batu dan habitat yang hidup di dalamnya.(prizt)

Jumat, 12 Oktober 2012

batik tradisional TENUN GEDOG Yang Khas Dan Artistik



Tenun Gedog, begitulah nama kerajinan tangan berbentuk lembaran kain Tradisional ini. NamaGedog itu berasal dari bunyi secara berulangkali  yang terdengar ketika proses menenun itu sedang dilakukan yaitu Dog ...Dog..Dog...

 

Uniknya, kerajinan ini hanya dikerjakan oleh warga Desa Margorejo, Gaji  dan Karangrejo,Kecamatan Kerek, yang letaknya sekitar 27 km arah barat Tuban.
Saat ini tenun Gedog sudah jarang bisa ditemui karena hanya tinggal beberapa generasi usia lanjut yang menekuninya.

Generasi muda di desa itu banyak yang memilih pekerjaan membatik daripada menenun. Alasannya, proses persiapan dan pengerjaan tenun gedog selain rumit juga butuh waktu lama. Untuk persiapan saja dibutuhkan waktu empat hari, sedangkan pengerjaannya biasanya bisa sampai satu bulan penuh.Selain itu, kebiasaan warga yang lebih mengutamakan mengerjakan ladang atau sawahnya, membuat kerajian tenun Gedog hanya sebagai pekerjaan sambilan.
   
 Akibatnya , bila tiba musim tanam atau panen, kerajinan gedog ditinggalkan. Pada saat itu tak bisa menemukan warga yang menenun Gedog. Mereka lebih mengutamakan ke ladang, kebun atau sawahnya daripada menenun Gedog. Tidak peduli meski saat itu sedang ada banyak pesanan.


Para perajin gedog tak hanya menggunakan pewarna sintetis, tapi juga yang Alami. Repotnya, banyak pewarna alami yang belum mereka kenal. Selama ini mereka hanya mengenal wit tarumatau wit tom alias pohon nila untuk mendapatkan Warna biru tua. Sulitnya, Tanaman ini tidak mudah didapat, karena jarang ditanam oleh penduduk. Padahal menanamnya mudah dan tidak butuh perawatan khusus.
Pewarna alami yang digunakan itu antara lain  daun dan kulit jambu mete, kulit pohon jambu biji, akar mengkudu, kayu secang, dll. yang bisa menghasilkan warna coklat dan krem.



Bentuk kerajinan gedog sebenarnya beraneka rupa. Sebut saja mulai dari kain tenun gedog, kain tenun motif non-gedog, kain batik non-gedog, sampai kain seser. Kain tenun gedog itu kain hasil tenun berhiaskan motif gedog. Sedangkan kain batik gedog terbuat dari bahan kain non-tenun yang berhiaskan motif gedog.
Selama ini ada sekitar 22 motif asli gedog, di antaranya motif panji konang, panji serong, ganggeng, kembang randu, kembang waluh, cuken, melati selangsang, satriyan, kijing miring, likasan kothong, guntingan, dll. Umumnya, hiasan motif berupa penghalusan dari bentuk tanaman, satwa, dan bentuk-bentuk abstrak yang penuh dengan hiasan titik, garis lurus, dan garis lengkung. Ada juga hiasan berupa guratan-guratan yang pecah seperti permukaan marmer. Artistik sekali.

Sedangkan kain tenun motif non-gedog dihasilkan dari permainan warna barang tenunannya. Sekilas kain jenis ini tidak banyak berbeda dengan kain tenun dari daerah lain. Motifnya antara lain usik, dom sumelop, kembang batu, batu rante, intip iyan, semar mendem, sleret blungko, dsb.

 Sedangkan kain seser disebut demikian karena jenis kain ini dulu dipakai untuk menyeser, yakni menangkap ikan dan udang di sungai. Tidak aneh kalau jarak antarbenang tenunan kain seser itu longgar. Ia juga tanpa motif atau warna.